Dibangun Serampangan, Gedung LPP RRI Palu Mengkhawatirkan

RPM – Palu | Pelaksanaan kegiatan program Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (RRI) pusat untuk Pembangunan dan Rehabilitasi Gedung RRI Palu yang rusak diakibatkan bencana gempa bumi medio 2018 silam saat ini tengah berjalan, dan sudah memasuki tahapan Pekerjaan Pembesiaan Tiang untuk Pemasangan Sloof Atas yang menjadi salah satu komponen penting pada suatu bangunan gedung.

Layaknya pembangunan sebuah gedung bertingkat, sejumlah tahapan telah dilakukan, diantaranya Pekerjaan Tanah dan Pasir termasuk Pekerjaan Pemasangan Konstruksi Bangunan Bertingkat.

Hanya saja dari tahapan tersebut, sejumlah pihak justru meragukan pekerjaan tahap awal yaitu pekerjaan penggalian tanah untuk pondasi bangunan termasuk ke tahap penimbunan dan pemadatan tanah. Pada proses pekerjaan penggalian tanah untuk pondasi bangunan terlihat menggunakan Pondasi Telapak (Foot Plat) atau biasa disebut dengan pondasi cakar ayam.

Pondasi telapak ini biasanya digunakan pada bangunan berlantai dua atau lebih dengan kondisi tanah yang baik, yang merupakan jenis pondasi yang umum digunakan untuk bangunan di tanah rawa. Hanya saja di proses ini, ada dugaan kedalaman pondasi tidak sesuai dengan aturan yang ada yakni tidak mencapai kedalaman tanah terkeras yaitu 4 meter dari muka tanah.

Saat dilakukan proses pengecoran dengan menggunakan beton siap pakai (ready mix) terlihat genangan air di sekitar foot plat. Padahal pelaksanaan suatu pekerjaan bangunan, khususnya pekerjaan konstruksi yang telah disyaratkan untuk dikerjakan dalam kondisi kering, yakni dengan mengurangi tinggi genangan air pada saat pengecoran elemen sub-structure, seperti halnya pondasi telapak (foot-plate).

Kontraktor kawakan Kota Palu, Koh Jhon menyoroti hal itu. Menurutnya, kualitas beton yang dicor dalam kondisi tergenang air jauh lebih rendah dari nilai kuat tekan beton desain. Persentase penurunan kuat tekan beton yang dicor dalam kondisi terendam air berkisar antara 30,82% sampai dengan 32,63% terhadap kuat tekan beton normal, semakin tinggi genangan air, maka semakin rendah kuat tekan beton.

“Genangan air yang terdapat pada daerah pengecoran berpotensi mempengaruhi komposisi adukan khususnya pada faktor air semen (fas). Hal tersebut dapat mengakibatkan kuat tekan beton (f’c) berkurang sehingga mengakibatkan mutu beton menjadi berkurang. Kontraktor harusnya menjaga agar lubang-lubang galian pondasi tersebut bebas dari genangan air (bila perlu dipompa), sehingga pekerjaan pondasi dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan spesifikasi. Lah kalau seperti begitu kondisinya justru akan mempengaruhi kekuatan bangunan tersebut. Apalagi kalau sampai terjadi penurunan massa tanah atau Shetlement, itu bisa bahaya bagi gedung itu sendiri,” ujarnya.

Koh Jhon yang malang melintang di dunia kontruksi dan bangunan gedung sejak era 80-an di Kota Palu ini juga menyayangkan ketika media ini menunjukkan foto di lokasi proyek Bekisting cakar ayam yang tidak dibongkar dan langsung ditimbun.

“ Wah wah wah, ini bahaya sekali, perlu dilakukan pembongkaran dengan menggunakan cara tanpa mengurangi keamanan serta kemampuan struktur dak beton yang dapat dipengaruhi akibat adanya pembongkaran. Kenapa bekisting tidak dibongkar? Mestinya bekisting dibuka terlebih dahulu apabila umur beton sudah cukup. Bukannya dibiarkan dan langsung di timbun dengan urugan seperti itu. Apalagi ini bangunan dua lantai bisa bahaya,” tegasnya. ***

 

 

Leave a Reply