Lutim Diterpa Cuaca Buruk, Petani Rugi Ratusan Juta

RAPORMERAH.CO, LUTIM – Sejumlah petani di Kabupaten Luwu Timur khususnya di kecamatan Wotu terancam merugi, ini di sebabkan curah hujan terus mengguyur dalam beberapa hari ini.

Akibatnya, sejumlah pedagang beras tak melirik hasil produksi pertanian. Pasalnya, gabah tersebut belum layak di perjualkan di karenakan masih basah alias belum kering.

Selain itu, tampak sejumlah buah padi siap panen ini juga mengalami kerontokan di sebabkan seringnya di guyur hujan.

Salah satu warga Dusun Rantetiku Desa Tarengge Timur, kecamatan Wotu Lutim juga selaku pengurus kelompok tani, sebut saja Antonius Saleh mengeluhkan hasil pertanian tak di lirik pedagang.

“kami sangat menjerit dikarenakan cuaca buruk akhir-akhir ini, hasil pertanian kami tidak laku di beli pedagang, karena belum kering, seharusnya pemerintah daerah menyiapkan mesin dryer berkapasitas besar untuk menyelamatkan pertanian kami, sementara mesin tersebut yang di siapkan pemerintah hanya berkapasitas kecil,” keluhnya, senin (05/06/17).

Kata Antonius, padi kami juga sudah rontok, yang seharusnya di panen namun hasil pertanian tidak laku akhirnya tinggal hancur,

Tidak main- main pak’ akibat persoalan ini kami mengalami kerugian besar,”saya sudah mendekati Rp 300 juta kerugian, begitu pula petani lainnya, ketus Antonius.

Lanjutnya, sementara pedagang dari Sidrap katanya, untuk saat ini tidak membeli hasil pertanian kami karena mereka kelebihan stok. Menurutnya, harga beras anjlok, ujar Antonius.

Sementara gudang beras yang di siapkan pemerintah daerah terbilang kecil, kapasitas lantai jemur nya hanya dua mobil hasil panen dapat di tampung, paparnya.

Ia menambahkan, seharusnya pemerintah daerah memerhatikan hal ini, sementara petani di tuntut menggenjot hasil pertanian,

Oleh sebab itu, kami berharap kedepan pemerintah sudah dapat mengantisipasi hal-hal seperti ini, agar persoalan ini tak terulang lagi, harapnya.

Terpisah, Kadis Pertanian Lutim Muharif akui adanya persoalan ini di sebabkan anomali atau pergantian cuaca.

Menurutnya, akibat curah hujan melanda daerah ini, banyak hasil pertanian kita tidak kering, hingga persoalan ini terjadi, kami tidak bisa berbuat banyak karena ini persoalan alam, ketusnya.

Selain itu, sejumlah pedagang kita sudah komunikasikan termasuk Bulog namun Bulog itu hanya memiliki lantai jemur yang kecil dan tidak memiliki mesin pengering di sebut Dryer, katanya.

Menurutnya, mesin Dryer tersebut bukan lah solusi karena hanya berkapasitas kecil, sementara produksi pertanian kita terbilang cukup besar pasca panen, terangnya.

“Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah (PR) buat kami, insya Allah kita akan upayakan mencari jalan keluarnya,”, kuncinya.

Peliput : Zhakral | Editor : Kurniawan.

Leave a Reply