


RAPORMERAH.co, MAKASSAR – Dampak bencana alam gempa bumi dan Tsunami yang memporak porandakan Kabupaten Donggala dan Palu, Sulteng, sehingga Ratih bersama satu anaknya harus mengungsi di Kota Makassar.
Ratih merupakan warga kecamatan Bone-Bone, Kabupaten Selayar yang hijrah ke Palu dan menetap disana hampir 10 tahun di Pantoloan Palu.
Ibu satu anak ini setiap harinya selama menetap di Kota Palu bekerja sebagai pengawai honorer di SD Negeri 2 Palu. Sementara suaminya bekerja sebagai buruh bangunan.
Namun, pada Jumat (28/9) menjelang malam bencana alam gempa bumi dan terjangan Tsunami menghempaskan Palu. Warga berlarian menyelamatkan diri. Rumah dan gedung bertingkat seketika ambruk dihantam gempa dengan kekuatan 7.4 Skala Richter.
Ratih saat kejadian lari menyelamatkan bersama keluargannya serta tetangganya ke atas gunung.
“Saat gempa, saya bersama suami dan anak-anak berlari ke gunung dan menetap selama tiga hari,” kata Ratih saat ditemui di ruang tunggu pemberangkatan Pelabuhan Soekarno Hatta, Kamis (4/10/2018).
Pasca kejadian gempa dan Tsunami dirinya bersama keluargannya, selama tiga hari di atas gunung harus membagi makan dan minum dengan sesama korban.
“Selama tiga hari, air minum dan makanan kita berbagi dengan teman, tapi kami tidak ada rasa lapar karena rasa takut lebih kuat,” tuturnya.
Tetapi, Ratih harus berpisah dengan suami tercinta yang masih berada di Palu. Sementara dirinya bersama anaknya mengungsi ke Makassar dengan menggunakan kapal perang milik TNI AL, KRI Makassar-590.
“Untuk sementara suami masih di Palu, karena masih membujuk orang tuanya untuk ke Makassar,” bebernya.
Rencananya, Ratih bersama anaknya akan menuju ke Kabupaten Selayar, kampung halamannya sambil menunggu kabar dan kedatangan sang suami bersama keluargannya.
Penulis : Illank | Editor : A.Azhar
Leave a Reply