RAPORMERAH.CO, MAKASSAR – Menjadi mahasiswa tentu tidaklah mudah, sebab proses menjadi mahasiswa tidak sekedar menyandang predikat nama dan sebutan jadi mahasiswa. Yah, kata Maha, selalu didiksikan bahwa hanya Tuhan yang layak disebut Maha, yakni maha segalanya, kekuasaannya yang tak terbatas, terus bagaimana dengan siswa (pelajar) yang diikutkan dengan kata maha, apakah ia juga bisa disejajarkan dengan Tuhan ? tentu jawabannya sama sekali tidak.
Kata mahasiswa sepertinya hanya untuk menegaskan bahwa seorang pelajar yang bergerak kearah dinamika perkembangan pemikiran seiring dengan kemajuan zaman. Atau satu pelahiran dari academic intelectual, dimana ia memiliki kemampuan analisis, inovatif, kreatif, progressive, tidak menjadi budak dizamannya.
Namun saat ini, mungkin kita bisa menyaksikan panggung-panggung hiburan dihuni oleh riuhnya tepuk tangan dari klan mahasiswa. Ataukah ini jawaban dari academic kapitalisme? dimana pemilik modal sudah menjadi pengendali emosi intelektual mahasiswa. Kalau ini terjadi maka apakah mungkin gagasan perubahan masih.bisa diharapkan lahir dari ruang-ruang intelektual yang bernama kampus ?
sejatinya, mahasiswa tak pantas dihargai dengan tepuk tangan, mahasiswa dulu mengepalkan tangannya sebagai simbol perlawanan, saat ini mungkin tangan itu tak lagi terkepal namun lebih riuh dinyanyian standing aplous (tepuk tangan), tsngan revolusi itu telah mati diatas kertas tulisan, namun hidup dikertas yang bernominal.
Kemana idealisme itu ? apakah sudah tergadai karena recehan yang menyumbat. Kematian mahasiswa sama halnya kematian satu peradaban dibangsa itu. Namun, kita masih yakin dijiwamu masih ada nilai “arete” keutamaan yang jadi fondasi perjuangan. Joshua aktifis krempeng dari Taiwan berhasil mendorong umbtella revolution, Antonio Lasardo Darocha mendorong pembangkangan civil society di Brazil.
Indonesia pun merdeka, sampai jatuhnya orde baru karena suara merdu dari mimbar kampus. Sebab suaranya masih mengalahkan riuhnya suara tepuk tangan.
oleh : Saifuddin Almughniy