Rapor-Merah.com | Makassar – Video sejumlah pemuda hingga lansia yang meminum oli mesin mendadak beredar luas di media sosial. Rekaman itu cepat memantik reaksi, dari rasa heran hingga kecaman. Aksi tersebut diduga terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (8/4/2026).
Dalam video yang beredar, para pelaku tampak meneguk oli langsung dari wadah. Mereka terlihat santai, bahkan tertawa, seolah aksi itu tidak berbahaya. Beberapa di antaranya mengenakan pakaian muslim. Di potongan lain, seorang pemuda melakukan push up tak lama setelah minum oli, seperti ingin menunjukkan tubuhnya tetap kuat.
Di titik ini, publik mulai mempertanyakan: apakah ini sekadar sensasi, atau ada maksud lain di baliknya?
Sorotan kian tajam setelah muncul dugaan lokasi aksi berada di dalam masjid. Dugaan itu belum terverifikasi, namun cukup memicu kegelisahan. Video lain yang memperlihatkan aksi serupa di sebuah gang juga ikut beredar, memperluas persepsi bahwa tindakan ini bukan kejadian tunggal.
Respons warganet pun keras. Banyak yang menilai aksi tersebut berbahaya dan berpotensi ditiru, terutama oleh anak-anak dan remaja yang mudah terpengaruh konten ekstrem. Di sisi lain, belum ada keterangan resmi dari aparat kepolisian mengenai kebenaran lokasi maupun pihak-pihak yang terlibat.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan termasuk yang lebih dulu angkat suara. Sekretaris MUI Sulsel, Muammar Bakry, menegaskan bahwa tindakan meminum oli tidak hanya berisiko secara kesehatan, tetapi juga bertentangan dengan ajaran agama.
“Oli itu bukan untuk dikonsumsi manusia dan jelas berdampak buruk bagi kesehatan. Karena itu hukumnya haram,” kata Muammar.
Ia juga menyoroti penggunaan atribut keagamaan dalam video tersebut. Menurut dia, hal itu berpotensi menimbulkan kesan keliru seolah tindakan tersebut dibenarkan dalam ajaran agama. Padahal, prinsip dasar dalam Islam justru menekankan pentingnya menjaga keselamatan diri.
Muammar mengingatkan, konten semacam ini bisa menjadi preseden buruk di ruang digital. Apa yang awalnya dianggap hiburan, berisiko berubah menjadi tren berbahaya. Ia meminta pembuat konten segera memberikan klarifikasi, sekaligus mengimbau masyarakat lebih selektif dalam menyaring tontonan di media sosial.
Sampai kini, asal-usul pasti video itu masih menjadi tanda tanya. Namun satu hal sudah jelas perhatian publik terlanjur tersedot, dan risiko dari aksi tersebut bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
(Mhr)