Medsos Jadi Arena ‘Perang’ Calon Walikota Makassar

Foto : IST / RPM

RAPORMERAH.co,MAKASSAR – Genderang pesta Demokrasi di kota Makassar kini telah dimulai dalam pertarungan untuk menuju kursi walikota dan wakil walikota Makassar selanjutnya.

Ada yang sangat mencolok dalam konteks Pilwalkot kali ini, dimana Kampanye para calon di Makassar yang kompetitif, keras dan multi isu, kini beralih arena ke situs jejaring sosial (social network site)

Seperti kita ketahui, intensitas perbicangan kontestasi Makassar 01 oleh masyarakat lebih aktif di media sosial facebook, isntagram, dan blog interaktif ketimbang obrolan-obrolan selingan di warung kopi.

Namun yang terlihat Penggunaan media sosial (medsos) untuk menyampaikan pesan ‘berbau’ politik bagi kedua pendukung pasangan calon Walikota Makassar kian sengit dan kebablasan, Nyaris tiap hari postingan pilkada langsung diserbu dan diperdebatkan oleh masing – masing tim pasangan calon walikota, bahkan saling serang dan saling menghina sering terlihat dalam kolom komentar.

Menanggapi fenomena tersebut Ketua panwaslu kota makassar, Nursari mengatakan, selama masih menggunakan nilai nilai moral untuk berkampanye itu tidak akan dilarang.

“selama tdk menggunakan hal2 yg dilarang misalnya menggunakan isu sara, agama, ras, golongan dan lain sebagainya ataukah menggunakan kampanye hitam, tidak ada masalah,”tuturnya kepada rapormerah.co, saat dikonfirmasi, Rabu, 28/2/2018.

Lebih lanjut ia tetap mengharapkan nilai nilai lokal dalam berkampanye, demi mewujudkan pemilihan yang damai.

“tapi kami tetap berharap, semua paslon harus tetap menjaga nilai-nilai lokal dalam berkampanye seperti sipakainge, sipakalebbi dan sipakatau, supaya pemilihan 2018 bisa mewujudkan pemilihan yang damai, sejuk dan tentunya berintegritas,”umbarnya.

Penggunaan Media sosia sangat memungkinkan dijadikan pasar lelang produk-produk politik oleh para calon walikota dan wakil walikota makassar, Sehingga, bila ada calon atau tim pemenangan yang tak pandai “menjajakan” calonnya secara virtual, maka perhatian publik akan tertuju pada produk lain yang lebih baik, tetapi bila para calon hanya saling serang dan saling hujat, maka publik akan muak dan bisa saja memilih Golput alias tidak akan menentukan pilihan kepada calon manapun.

Penulis : Thamrin

Related Post