RAPORMERAH.CO, GOWA – Potret miris sebuah desa di daerah dataran tinggi Kabupaten Gowa, Sulsel yang belum tersentuh pembangunan masih dirasakan warga.
Sebanyak 213 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 812 orang. Selama 74 tahun harus hidup tanpa listrik dengan tingkat pendidikan yang juga masih rendah.
Bahkan, untuk pertama kalinya para pelajar di desa itu, menggelar upacara bendera menyambut kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan melakukan sejumlah persiapan, termasuk latihan baris berbaris.
Puluhan tahun Indonesia merdeka, tampaknya masih belum dirasakan sepenuhnya oleh warga yang berada di Desa Parang Lompoa, Dusun Borong Bulo, Kecamatan Gowa, Sulawesi Selatan.
Kampung yang letaknya diketinggian dua ribu 71 meter diatas permukaan laut dengan jarak tempuh mencapai 50 kilometer dari Kota Makassar.
Membuat kampung ini tak tersentuh pembangunan, kondisi jarak serta medan yang cukup terjal menjadi salah satu alasan, kampung ini tidak tersentuh pemerintah setempat.
Perjalanan menuju dusun terisolir ini terbilang ekstrim untuk dapat mencapai kampung tersebut warga harus menggunakan kendaraan khusus. Selain, dipenuhi bebatuan cadas sehingga akses jalan ini juga dikelilingi pepohonan yang lebat membuat jaringan telekomunikasi pun sulit.
Selama 74 tahun, warga di kampung ini belum merasakan kemerdekaan, dimana masyarakat belum merasakan aliran listrik yang masuk di kampung serta kesulitan air bersih. Untuk mengakali itu, warga hanya bisa berharap pada air hujan, sedangkan penerangan warga harus menarik kabel sejauh 20 kilometer dari kampung sebelah yang hanya untuk penerangan di ratusan rumah warga.
Sementara itu, guna menyambut perayaan kemerdekaan Republik Indonesia para pelajar di dusun Borong Bulo melakukan sejumlah persiapan, termasuk latihan baris berbaris. Siswa di kampung itu melaksanakan upacara kemerdekaan.
Salah satu tokoh masyarakat Dusun Borong Bulo, Yusuf Punai menuturkan, masalah dikampungnya hingga saat ini adalah pembangunan, listrik serta pendidikan.
“Apalagi, desa-desa tetangga telah merasakan penerangan dan air bersih. Tetapi di desanya hingga kini belum ada pembangunan,” kata Yusuf Punai.
Warga pun berharap agar adanya pemerataan pembangunan dapat mereka rasakan di hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 74 tahun.
“Dihari kemerdekaan ini semoga desa kami segera ada pembangunan baik penerangan maupun air bersih,” harapnya.
(Mir/Azr)