


Indah Fitriani : Ketum HMI Komisariat Hukum UMI
“TUHAN kami adalah nurani, neraka dan surga kami adalah nurani kami. Dengan melakukan kejahatan,
nurani kamilah yang menghukum kami; dengan melakukan kebajikan, nurani kami pulalah yang memberi kurunia”. Raden Ajeng Kartini.
Perempuan adalah diktat peradaban yang melahirkan dua sisi lalu menciptakan dua generasi
sekaligus generasi dirinya dan anak-anaknya.
Mencetak generasi unggul dibawa dari perempuan dalam
perannya sebagai ibu dalam rumah tangga, sebagai kakak bagi adiknya, dan sebagai tiang bagi agama dan negaranya karena melalui tangan cerdas perempuanlah tumpuan harapan itu ada.
Kondisi marginal yang
harus ditimpa perempuan saat ini dipicu karena maraknya pengeksploitasi perempuan apalagi dalam ruang-ruang publik yang hanya dijadikan alat komoditas karena perempuan adalah makhluk lemah jikalau berbicara personal mastery (pengendalian diri).
Kebebasan subjektif yang mengangkat mode eksistensi anak laki-laki tetapi yang penting bahwa
tidak ada pertentangan mendasar tentang apa yang dianggap sosok objektif, perempuanlah yang
mengangkat keberadaannya sebagai seorang yang lain, “but ubsured it’s confidance make talented if there
any somebody make superiority” kutipan itu tergambar bahwa untuk mempercayai seseorang ketika ia
terlihat unggul dan berbakat.
Seharusnya perempuan mampu mengambil peran itu sebagai hal yang melekat agar dihargai keberadaannya.
Topik masalah yang selalu saja diangkat dalam setiap peradaban manusia menyoal ketika cinta
dirayakan dan diperdebatkan, ditengah kecenderungan masyarakat kontemporer yang menempatkan cinta sebagai komoditas yang bisa mendatangkan penghidupan atau sabagai sarana dalam mendapatkan kenikmatan bahkan melakukan penundukan dan dominasi, maka akan berujung pada poros feminisme
karena cinta tidak bicara soal apa dan siapa, cinta harus dihargai.
Seperti sosok kartini yang dikenal
sebagai tokoh pejuang emansipasi bagi kaum hawa di ibu pertiwi, dan bahwa perempuan harus mampu
mencetak karya dan buah pemikiran untuk ummat dan bangsa agar sosok perempuan kini juga mampu meneruskan keberlanjutan semangat kartini.
Ketertarikan yang perempuan kini ciptakan hanya selalu saja pada tatanan penampilan hingga
kebutuhan tubuhnya saja, tetapi tidak mampu bergerak dan melakukan perubahan.
Apalagi jika perempuan terkena penyakit steorotip hingga lebih memilih terlena dalam pahitnya kebodohan, akibatnya
tidak mampu mengendalikan diri, membiarkan dirinya berada dibawah sepatu laki-laki, hingga harus melakukan peran ganda.
Kebanyakan perempuan yang tidak mandiri lalu hanya tinggal memangku kepada orang lain, kemudian akan membawa situasi ini kedalam masalah sosial terkait hilangnya harga diri seorang perempuan.
Karena juga banyak kasus yang ditemui bahwa perempuan mengalami kekerasan seksual salah satu penyebabnya karena perempuanlah yang tidak mampu membentengi diri dengan proses
manipulatif zaman.
Jika kembali melihat kebelakang pada sejarah Kartini yang dikenal karena hasil tulisan tangannya berupa surat-surat Kartini yang aktif melakukan korespondensi dengan teman-temannya yang berada di Eropa.
Akhirnya disusunlah buku yang awalnya berjudul ‘Door Duisternis tot Licht’ yang kemudian diterjemahkan dengan judul Dari Kegelapan Menuju Cahaya yang terbit pada tahun 1911.
Berawal dari sinilah buku ini kemudian banyak mengubah pemikiran masyarakat Belanda tentang wanita pribumi.
Inilah yang akhirnya membuat Kartini diabadikan sebagai salah satu pahlawan Nasional yang
dikenal memperjuangkan hak wanita.
Kenapa tidak kita menulis sebagai wujud keperihatinan terhadap kondisi perempuan, banyak
aktor perempuan dan para aktivis lahir karena kepeduliannya terhadap nasib perempuan yang hingga akhir ini kita masih saja menutup mata.
Kitalah sesama kaum perempuan yang harus mendukung
semangat perempuan untuk melihat kemandirian perempuan sebagai ibu di negaranya.
Menyelamatkan kaum papa juga bisa dimulai melalui tulisan karena semua adalah bentuk perjuangan jika tidak maka generasi cerdas tidak akan terwujud.
Leave a Reply